Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum

Pengembangan kurikulum tidak boleh dilakukan secara sembarangan, namun harus berdasarkan prinsip-prinsip yang tepat.

Kurikulum sangat menentukan tercapainya tujuan pendidikan. Kurikulum dapat berfungsi sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan jika memperhatikan sejumlah prinsip dalam proses pengembangannya. Wina Sanjaya (2008) mengemukakan bahwa terdapat lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu: relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas. Sedangkan Nana Syaodih Sukmadinata (2009) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum dengan membaginya ke dalam dua kelompok, yaitu: prinsip-prinsip umum dan prinsip-prinsip khusus.

Prinsip-Prinsip Umum Pengembangan Kurikulum

Seperti halnya Wina Sanjaya, Nana Syaodih mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu:

1. Prinsip Relevansi

Prinsip relevansi adalah prinsip kesesuaian. Kurikulum merupakan rel-nya pendidikan yang membawa siswa menuju hidup yang sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat serta membekali siswa supaya mempunyai afektif, kognitif, dan psikomotor yang sesuai dengan tuntutan, kebutuhan dan harapan masyarakat. Oleh sebab itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disusun dalam kurikulum harus relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Terdapat dua macam prinsip relevansi, yaitu:

(1)   Relevansi internal

Relevansi internal merupakan prinsip pengembangan kurikulum yang menyatakan bahwa setiap kurikulum harus memiliki keserasian diantara komponen-komponennya, yaitu keserasian antara tujuan yang harus dicapai, isi, materi atau pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa, strategi atau metode yang digunakan serta alat penilaian untuk melihat ketercapaian tujuan. Relevansi internal ini menunjukkan keutuhan suatu kurikulum.

(2)   Relevansi eksternal

Relevansi eksternal berkaitan dengan keserasian antara tujuan, isi, dan proses belajar siswa yang tercakup dalam kurikulum dengan kebutuhan dan tuntutan yang ada di masyarakat. Terdapat tiga macam relevansi eksternal, yaitu: pertama, relevan dengan lingkungan hidup peserta didik (relevansi sosiologis). Proses pengembangan dan penetapan isi kurikulum hendaklah disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar siswa. Contohnya: untuk siswa yang ada di perkotaan perlu diperkenalkan kehidupan di lingkungan kota, seperti heterogenitas penduduk dan rambu-rambu lalu lintas, pelayanan-pelayanan publik dan lain sebagainya.

Kedua, relevan dengan perkembangan zaman baik sekarang maupun dengan yang akan datang. Materi dari kurikulum harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang berkembang dan sesuai dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu juga apa yang diajarkan kepada siswa harus bermanfaat untuk kehidupan siswa pada waktu yang akan datang. Contohnya: efek negatif dari global warming yang menjadi isu internasional harus diajarkan di sekolah, sehingga siswa dapat menghindari perbuatan-perbuatan yang memicu terjadinya pemanasan global. Pada kehidupan sekarang dan yang akan datang, penggunaan komputer dan internet akan menjadi salah satu kebutuhan, maka siswa harus diajarkan tentang bagaimana cara memanfaatkan komputer dan bagaimana cara mendapatkan informasi dari internet.

Ketiga, relevan dengan tuntutan dunia pekerjaan dan tuntutan potensi peserta didik (relevansi psikologis). Materi kurikulum yang diajarkan di sekolah harus mampu memenuhi dunia kerja. Untuk memenuhi prinsip relevansi ini, maka dalam proses pengembangannya sebelum ditentukan materi kurikulum yang bagaimana yang akan digunakan, perlu dilakukan studi atau survei kebutuhan dan tuntutan masyarakat, atau melakukan studi tentang jenis-jenis pekerjaan yang dibutuhkan oleh setiap lembaga atau instansi.

2. Prinsip Fleksibilitas

Kurikulum yang kaku atau tidak fleksibel akan sulit diterapkan. Apa yang diharapkan dalam kurikulum ideal kadang-kadang tidak sesuai dengan kondisi kenyataan yang ada. Oleh karena itu, kurikulum harus fleksibel. Prinsip fleksibilitas artinya bahwa kurikulum itu harus lentur dan tidak kaku, terutama dalam hal pelaksanaannya, dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar apa yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik. Kurikulum mempersiapkan anak didik untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, di sini dan di tempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda.

Prinsip fleksibilitas dalam pengembangan kurikulum harus dilihat dari dua sisi, yaitu:

(1)   fleksibel bagi guru, yang artinya kurikulum harus memberikan ruang gerak bagi guru untuk mengembangkan program pengajarannya sesuai dengan kondisi yang ada.

(2)   fleksibel bagi siswa, artinya kurikulum harus menyediakan berbagai kemungkinan program pilihan sesuai dengan bakat dan minat siswa.

3. Prinsip Kontinuitas (Berkesinambungan)

Perkembangan dan proses belajar anak berlangsung secara berkesinambungan, tidak terputus-putus atau berhenti-henti. Prinsip kontinuitas yaitu adanya kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Oleh karena itu, pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum juga hendaknya berkesinambungan antara satu tingkat kelas, dengan kelas lainnya, antara satu jenjang pendidikan dengan jenjang lainnya, juga antara jenjang pendidikan dengan pekerjaan.

Dalam penyusunan materi pelajaran, perlu dijaga agar apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu materi pelajaran pada jenjang yang lebih tinggi, dasar ilmu pengetahuannya telah diberikan dan dikuasai oleh siswa pada waktu mereka berada pada jenjang sebelumnya. Selain itu, prinsip ini juga berguna untuk menjaga agar tidak terjadi pengulangan materi pelajaran yang mengakibatkan program pengajaran tidak efisien.

Untuk menjaga agar prinsip kontinuitas itu berjalan, maka perlu adanya komunikasi dan kerja sama yang konstruktif antara para pengembang kurikulum pada setiap jenjang pendidikan, baik pada jenjang sekolah dasar, jenjang SMP, jenjang SMA/SMK, dan bahkan dengan para pengembang kurikulum di tingkat perguruan tinggi.

4. Prinsip Praktis

Kurikulum harus praktis, mudah dilaksanakan, menggunakan alat-alat sederhana dan biayanya juga murah. Prinsip praktis ini juga disebut prinsip efisiensi. Prinsip efisiensi yaitu mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai. Prinsip efisiensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga, waktu, dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh. Kurikulum dikatakan memiliki tingkat efisiensi yang tinggi apabila dengan sarana, biaya yang minimal dan waktu yang terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal.

Walaupun bagus dan idealnya suatu kurikulum kalau menuntut keahlian-keahlian dan peralatan-peralatan yang sangat khusus dan mahal biayanya maka kurikulum tersebut tidak praktis dan sukar dilaksanakan. Kurikulum dan pendidikan selalu dilaksanakan dalam keterbatasan-keterbatasan, baik keterbatasan waktu, biaya, alat, maupun personalia. Kurikulum bukan hanya harus ideal tetapi juga praktis.

5. Prinsip Efektivitas

Prinsip efektivitas merujuk pada pengertian kurikulum itu selalu berorientasi pada tujuan tertentu yang ingin dicapai. Walaupun kurikulum tersebut harus murah dan sederhana tetapi keberhasilan pencapaian tujuan tetap harus diperhatikan. Keberhasilan pelaksanaan kurikulum ini baik secara kuantitas maupun kualitas. Pengembangan suatu kurikulum tidak dapat dilepaskan dan merupakan penjabaran dari perencanaan pendidikan. Perencanaan di bidang pendidikan juga merupakan bagian yang dijabarkan dari kebijakan-kebijakan pemerintah di bidang pendidikan. Keberhasilan kurikulum akan mempengaruhi keberhasilan pendidikan.

Prinsip efektivitas mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa adanya kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas. Oleh karena itu, tujuan yang ingin dicapai dari pengembangan kurikulum harus jelas. Kejelasan tujuan akan mengarahkan pada pemilihan dan penentuan isi, metode dan sistem evaluasi serta model kurikulum apa yang akan digunakan serta akan mempermudah dalam implementasi kurikulum itu sendiri. Contoh: apabila guru menetapkan dalam satu semester harus menyelesaikan sepuluh program pembelajaran sesuai dengan pedoman kurikulum, ternyata dalam jangka waktu tersebut hanya dapat menyelesaikan enam program saja, berarti dapat dikatakan bahwa pelaksanaan program itu tidak efektif.

Prinsip-Prinsip Khusus dalam Pengembangan Kurikulum

Prinsip-prinsip khusus dalam pengembangan kurikulum ini berkaitan dengan penyusunan tujuan, isi, pengalaman belajar dan penilaian. Prinsip khusus ini terdiri atas lima hal yaitu:

1. Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan

Tujuan merupakan pusat kegiatan dan arah semua kegiatan pendidikan. Perumusan kompenen-kompenen kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau berjangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek.

2. Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan

Memilih isi pendidikan yang sesuai dengan keutuhan pendidikan yang telah ditentukan para perencana kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal, antara lain: penjabaran tujuan pendidikan kedalam bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana; serta isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan ketrampilan; unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis.

3. Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar

Pemilihan proses belajar mengajar yang digunakan hendaknya memperhatikan metode/teknik belajar-mengajar yang digunakan harus sesuai.

4. Prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran

Proses belajar mengajar yang baik perlu didukung oleh penggunaan media dan alat-alat bantu pengajaran yang tepat.

5. Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian

Penilaian merupakan bagian integral dari pengajaran, maka harus memperhatikan suatu perencanaan penilaian yang baik dan penyusunan alat penilaian/test-nya.

Sumber:

Sukmadinata, N.S. (1997). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Sanjaya, Wina. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Tagged with: , , ,
Posted in Kurikulum, Landasan Kurikulum, Seputar Kurikulum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>